Mukadimah

“Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahawa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya"

Sunday, September 11, 2011

Macam-macam Raya

erm....Hari Raya.......raya adalah satu hari yang mengembirakan semua orang walau pun miskin, kaya, kecik besaq.......hari raya kita dapat tengok semua oorang bergaya dan melaram dengan pakaian baru yang pelbagai kaler, pelbagai patern....ermmmm..mcm medan pertunjukkan fesyen plak... bagi yang jenis suke barang kemas..nah sampai ke lengan......dah tue kalau orang lain x pakai......pandang slack jer.poyo betul..kadang2 kita kena fikir orang x pakai bukan bermaksud xder tapi maybe dia x minat.....erm masing2 punya cara la....aku nak kongsikan cara aku beraya, orang lain aku xtawla kan :-

Petang Raya:

sibuk buat ketupat rendang........

Malam Raya:-

Iron baju...., pakai inai....

Pagi Raya:-

bermaaf2an.....bersolat syawal.....makan2........jalan2........ziarah kubur....then malam zzzzzzz

Raya Ke2:-

Bangun pagi buat sarapan......, masak2 raya.......lepak2.......if ada jemputan open house pegilah...lau x duk rumah habiskan kuih raya

Raya Ke-3:-

erm dah x rasa raya..back to normal..... insan tersayang kerja...duduudud

*time2 nielah rasa nikmatnya berhari raya maa budak2 dulu. seawal 1st day puasa dah seronok..time raya lagilah x sabaq...........tapi la nie aku tgk kemeriahan itu kurang terasa.......mengapa?kenaper????????




Thursday, September 8, 2011

Buah mangga

Buah mangga @ pelam adalah buah yang paling aku suka..macam pagi nie aku sarapan buah mangga putik...hadoiyai....minat gila la aku......nie ada beberapa makanan yang berasaskan mangga yang menjadi pujaan hatiku :





 Jus mangga nie, aku hanya minum yang dijual di Kampung Morton kat Melaka nue.....sedap sangat jus dia.....erm..bile ek nak pegi saner......

Wednesday, September 7, 2011

dari kecik ke besaq


dari kecik sampai besar aku selalu dengaq, tengok citer pasal bawang putih bawang merah nie..Jom aku citer skit pasal citer buat tatapan budak2 zaman skunk nie, jangan asyik duk layan KPop je,,meluat aku.....

Zaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

* moralnya orang jahat selalu dibalas jahat

KELUARGA BAHAGIA


Bagaimana kita membina dan mewujudkan rumahtangga yang harmoni, penuh kasih saying, “mawaddah wa rahmah”, wujud persefahaman dan bahagia dunia akhirat? Beberapa kaedah mustahak perlu diketahui bersama, kaifiat dan nilai itu berasas pada sumber nilai yang benar, iaitu Al-Islam. Nilai dan ajaran ini perlu digalakkan, kerana ia memang merupakan panduan bagi sesiapa yang mahukan kebahagiaan. Nilai-nilai yang dimaksudkan adalah:
Pertama :
Membangunkan rumahtangga yang baik dan harmoni mestilah berdasarkan iman kepada Allah. Iman adalah asas dalam kehidupan dan kekuatan dalam menegakkan azam. Jika beriman, maka wujudkanlah dalam keluarga solat berjemaah, ke masjid atau ke surau. Usahakanlah makan bersama.
Ucapkanlah salam dalam setiap keluar dan masuk rumah. Berkatalah dan berbual dengan ucapan yang taiyibbah (baik), kerana itu merupakan contoh dan ikhtibar bagi anak. Hindari pertengkaran antara suami isteri di hadapan anak-anak, kerana ia akan mempengaruhi jiwa.
Ibubapa hendaklah menghindari perkataan yang kotor, umpamanya : anjing, babi, tidak tahu diri, tak tahu jasa orang tua, anak haram dan sebutan yang tidak elok didengar. Hilangkan sikap emosional, meradang dan bersabarlah dalam melihat dan menghadapi tingkah laku anak yang tidak baik, ia harus dihadapi dengan tunjuk ajar yang baik dan tegur penuh kasih saying, sehingga si anak tak berasa kena marah, bahkan merasa diperhatikan dan dijaga.
Kedua:
Jangan ibubapa biar kasih saying pada anak-anak sehingga mereka diasuh oleh orang lain, kerana dari segi kejiwaan ia sangat berbahaya. Akibatnya, terjadilah sikap fatalisme dan frustasi pada diri dan masa depan anak-anak.
Kalaupun ibubapa memeliki pembantu rumah, tapi janganlah pembantu itu ditugaskan untuk mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Pembantu rumah sememangnya hanya cuba mengemas rumah, mencuci pakaian dan memasak, sementara anak, dididik, diasuh, dijaga dan dibesarkan oleh ibu, kerana ibulah yang lebih bertanggungjawab.
Seorang ibu (isteri) tidak payah bekerja dan terlibat dengan berbagai urusan. Serahkan kepada bapa. Bapalah yang mencari nafkah untuk anak, isteri dan keluarga. Bukankah seorang bapa (lelaki) itu pemimpin keluarga? Hal ini tidaklah bermakna seorang wanita bergantung dan menyerahkan nasibnya pada lelaki sahaja. Bukankah dalam Islam masing-masing memiliki hak dan kewajipan? Untuk apa ibubapa payah-payah bekerja sedangkan anak kehilangan kasih sayang?
Ketiga:
Selaku orang tua (ibubapa) harus berusaha memahami dan menghayati akhlak dalam Islam iaitu ‘akhlakul karimah” (akhlak mulia) baik dalam hubungan dengan Allah (al-Khaliq) atau hubungan sesama manusia, meliputi diri peribadi, keluarga, jiran dan masyarakat. Kesemua itu dapat kita kaji dan pelajari dari ilmu tasauf (akhlak), yang sesuai dan berpandukan kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Jika kita dapat menghayati dan memahaminya, akan lahir dalam jiwa dan diri kita, perasaan halus, budi bahasa yang mulia, tingkah laku yang elok dan sikap simpati.
Pendek kata, tercermin peribadi yang mulia yang dikehendaki oleh Islam dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Sikap dan budi luhur umpamna itulah yang digalakkan pada peribadi anak-anak kita. Kaedah yang sederhana, berkesan dan menarik perhatiannya, patut diajar dan menyertakan contoh tingkah laku orang tua.
Perlu disedari, bahawa kita akan gagal dan tidak berkesan dalam mendidika anak, jika tingkah laku kita tidak sesuai dengan Islam dan kita tidak mengerti tentang Islam. Sememangnya pembinaan dan pendidikan anak itu mesti berkesan. Di sekolah, anak-anak mendapat ilmu pengetahuan dan kepujian dengan baik. Di rumah mereka mendapat perhatian dan pembinaan kasih sayang dari orang tua. Dengan begitu, InsyaAllah meraka akan menjadi anak yang salih, baik bagi diri dan keluarga atau masyarakat, agama, nusa dan bangsa.
Keempat :
Jangan bernafsu besar mengejar kemewahan dunia yang hanyalah fatamorgana serta nisbi. Hiduplah dengan pola hidup sederhana dan tidak berlebihan. Jangan mempamerkan kekayaan, lebih-lebih lagi di mata orang miskin.
Kelima :
Hindari pertelingkahan yang tidak bermanfaat antara suami isteri. Tumbuhkanlah rasa memiliki dan dimiliki. Sang isteri harus faham kewajipan dan haknya; begitu juga bagi suami. Hal ini tentu tidak akan meninggalkan kesan buruk pada perkembangan psikologi anak-anak.

Mawar Putih Untuk Mama


Kau sinaran bulan
Menyerikan bitang-bintang
Kaulah fajar yang menerbitkan pagi

Kau sirami embun
Menyegarkan pepohonan
Kau bukakan tabir siang untukku

Kau berikan mama
Kasih sayang maha suci
Betapa agungnya
Tiada ternilaikan
 mama,  mamaku
Tiada cinta yang suci
Setulus cintamu

Ku suntingkan mama
Sekuntum mawar putih
Sebagai lambang kesucian cintaku

Keinginanku

Aku menginginkan benda2 nie ada di rumahku satu hari nanti.....sayang mampukah kau sediakan nie untukku...




aku harus berusaha untuk mendapatkannya...doakan aku ye...

SENGAL vs BODOH

aku pelik betul dengan manusia2 yang bodoh sombong nie.....eeee simpang (versi ucop wilca).....

Kenaper ek orang yang salah sentiasa di"backup" sebaliknya orang yang buat kerja betul dimarahi...tak ke bodoh namanyer tue....ishk marah betullah dengan orang macam nie...

aku pernah terbaca dalam satu buku agama yang aku bacalahkan...tanda2 akhir zaman ialah yang salah terus2 diagungkan......yang betul nie terus2 ditindas....wey wakeuplah......janganlah mcmnie.......buka skit mind tue...
perangai mcm nielah buat orang melayu terus2 ketinggalan....please lah...